Forex Education

Wadah belajar perdagangan valuta asing online / foreign exchange (forex).

Analisa Teknikal

Menyajikan berbagai macam teknik analisa teknikal dari berbagai sumber dan strategi jitu.

Analisa Fundamental

Mengupas secara gamblang analisa fundamental terhadap suatu pasangan mata uang (pair)

Forex News

Dapatkan berita forex secara up to date dari kami.

Broker Review

Menyajikan review berbagai broker terpercaya sebagai referensi perdagangan anda.

 

RI Dalam Darurat Ekonomi, Reshuffle Menteri Soulsinya?

20.22 | ,

Relawan pendukung Jokowi, Pro-Jokowi (Projo), mendorong Presiden Jokowi untuk segera merombak jajaran menteri bidang ekonomi. Projo menilai pembangunan ekonomi sejak Kabinet Kerja dilantik pada 27 Oktober 2014 sampai saat ini masih jalan di tempat, bahkan buruk.

“Menteri di sektor ekonomi harus dirombak. Kami menilai sektor ekonomi sudah berat sekali. Sudah sampai tahap emergency call,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Projo Budi Arie Setiadi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (27/6).

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan melambatnya gerak pertumbuhan ekonomi sampai Juni ini menjadi indikator yang digunakan Projo untuk menilai kegagalan atau keberhasilan kerja menteri di bidang ekonomi.

Seperti diketahui, sampai saat ini posisi tukar rupiah sudah mencapai angka Rp 13.300 per 1 USD. Angka tersebut berbeda jauh dengan nilai tukar rupiah pada 1 Oktober 2014 yang berada di kisaran Rp 12.135 per 1 USD.

Menurut Budi, pemenuhan janji-janji kampanye Jokowi dan Jusuf Kalla sebenarnya dapat terlihat jika pembangunan di sektor ekonomi berjalan baik. Nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya.

Banyaknya pandangan negatif terhadap kinerja pemerintah pun dinilai Projo tak bisa dilepaskan dari kegagalan menteri-menteri bidang ekonomi dalam menjalankan tugasnya.

"Yang terpenting sekarang adalah benahi ekonomi, karena segala janji kampanye dapat terlihat jika ekonomi sudah bergerak," kata Budi.

Menurut dari berbagai sumber yang didapat ada 17 menteri yang telah dievaluasi. Dari jumlah itu, empat menteri telah ditandai dan diusulkan untuk diganti karena dinilai berkinerja buruk. Keempat menteri itu seluruhnya dari bidang ekonomi, yakni Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago.
Read More

Keputusan The Fed Ditunggu Malam Ini Oleh Para Investor Terkait Suku Bunga

19.04 | ,

Dolar kembali menguat terhadap beberapa mata uang rival jelang pertemuan The Fed. Dolar AS mendapatkan kembali zona hijau setelah dihari sebelumnya melemah akibat permintaan investor untuk aset safe-haven di tengah memudarnya pasar ekuitas global.

Dalam pertemuan ini, diperkirakan The Fed akan memberikan sinyal atas kenaikan suku bunga ditahun ini. Sementara rilis data terbaru yang menunjuka hasil positif  telah meningkatkan spekulasi bahwasannya kenaikan suku bunga bisa terjadi diakhir tahun ini terjadi pada akhir tahun.

Indeks dolar, yang mengukur pergerakan mata uang "greenback" ini, naik sebesar 0.26% menjadi 96.74 terhadap enam mata uang utama diperdagangan sebelumnya. Penguatan indeks dolar terjadi setelah aksi jual di bursa saham dan komoditas China melambat.

Untuk perdagangan Rabu pagi (29/01/2015), Indeks dolar dibuka melemah 0.13% ke 96.643. Investor akan menyesuikan posisi menjelang hasil rapat The Fed yang akan menentukan posisi Fed Rate pada Kamis dini hari.
Read More

Kapitalisasi Pasar Saham Keuangan Menyusut Rp70 Triliun Pada Semester 1 Tahun 2015

17.36 | ,

Di tengah perlambatan penyaluran kredit perbankan, kapitalisasi pasar saham sektor keuangan berkurang sekitar Rp70 triliun pada semester I/2015 dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar pada akhir Desember 2014.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kapitalisasi pasar saham keuangan mencapai Rp1.261 triliun pada akhir Juni 2015 atau turun 5,25% dibandingkan dengan Rp1.313 triliun triliun pada akhir tahun lalu.

Sebagai perbandingan, pada Juni 2014, kapitalisasi pasar saham sektor yang sama mencapai Rp1.161 triliun atau tumbuh 20,56% dibandingkan dengan Rp963,85 triliun pada akhir Desember 2013.

Saham keuangan terdiri dari saham korporasi perbankan, asuransi, pembiayaan dan sekuritas. Pada saat ini, terdapat 87 emiten keuangan dimana perbankan menjadi industri dengan kapitalisasi pasar terbesar dengan porsi 92% di sektor tersebut.

Kapitalisasi pasar saham 40 bank mencapai Rp1.166 triliun pada semester I/2015 atau turun sekitar Rp56 triliun dibandingkan dengan kapitalisasi pasar Rp1.222 triliun pada akhir Desember 2014.

Kapitalisasi pasar sektor keuangan lainnya pada semester I/2015 antara lain terdiri dari perusahaan pembiayaan sebesar Rp18,44 triliun, perusahaan sekuritas Rp9,03 triliun, perusahaan asuransi Rp13,07 triliun dan perusahaan induk jasa keuangan sekitar Rp54,07 triliun.

Dari sejumlah sektor keuangan selain perbankan tersebut, hanya kapitalisasi pasar perusahaan pembiayaan yang mengalami penurunan dibandingkan dari Rp23,38 triliun pada Desember 2014.

Tim riset PT Henan Putihrai menilai berdasarkan kinerja pada kuartal I/2015, saham perbankan memiliki eksposur tinggi terhadap potensi downside risk terutama apabila pertumbuhan penyaluran kredit tidak menunjukkan pemulihan signifikan sehingga realisasi kinerja kuartal II/2015 di bawah estimasi.

“Potensi inflasi yang tak terkendali, pelemahan berlanjut pada harga komoditas dan nilai tukar rupiah, memberikan runag sempit bagi penurunan BI Rate,” tulis publikasi Investment Guide Agustus 2015.
Read More

"CURRENCY WAR" AS - CHINA Akan Menekan Perekonomian Indonesia

10.37 | ,

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini memperkirakan negara-negara yang berpeluang melakukan perang nilai tukar adalah mereka yang memiliki kekuatan untuk memainkan nilai tukar sebagai alat untuk mendorong daya saing industri mereka.

Hendri menyebutkan negara-negara yang dimaksud adalah China dan Amerika Serikat. Hendri mengatakan perang nilai tukar mata uang atau currency war ini kemungkinan terjadi lantaran menguatnya dollar AS.

"Yang bisa melakukan ini adalah China dan Amerika," kata Hendri, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Hendri mengatakan, dampak dari perang nilai tukar kedua negara itu tentu akan berpengaruh besar terhadap Indonesia. Sebab, baik China maupun Amerika Serikat merupakan dua mitra dagang utama Indonesia.

Ekspor RI ke China mayoritas berupa komoditas primer, sedangkan ekspor RI ke Amerika Serikat adalah produk manufaktur. Memang, perlambatan ekonomi di China menyebabkan impornya dari Indonesia berkurang.

"Tentu untuk mengatasi ini, kita lakukan kerjasama dengan China. Kita tawarkan kerjasama sehingga mengurangi tekanan tadi. Begitu juga dengan negara-negara lain," ucap Hendri.

Lebih lanjut dia mengatakan, kerjasama apa yang bisa ditawarkan adalah tergantung kemampuan pemerintah guna menyelesaikan defisit neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.

"Kebijakan yang dikeluarkan itu akan berimbas pada sektor riil. Bukan hanya utak-atik di sektor moneter," pungkas Hendri.
Read More

FOMC 30/07/2015 : Apa Yang Diharapkan Dari FOMC, Dan Apa Yang Bisa Dilakukan USD

09.06 | ,

Federal Reserve AS akan melakukan pertemuan hari Kamis, 30 Juli 2015 (GMT+7), dan akan mengungkapkan keputusan terbaru kebijakan ekonomi. Tidak ada konferensi pers yang dijadwalkan setelah acara, FED tidak akan memperbarui perkiraan, yang berarti perhatian pasar akan berpusat pada laporan yang menyertainya, dan pada saat yang sama bahwa tidak ada tindakan yang diharapkan.

The FED kemungkinan akan menahan diri untuk mengumumkan kenaikan suku bunga minggu ini, dan pasar tidak mengharapkan perubahan eksplisit dalam kata-kata pernyataan itu. Jika tidak, bagaimanapun, akan meningkatkan kemungkinan dari kenaikan pada bulan September yang seharusnya memicu reli USD yang kuat.

Kata-kata akan menjadi kunci, terutama untuk keputusan waktu kenaikan suku bunga, karena tidak ada keraguan Bank Sentral akan memulai pengetatan tahun ini. Sebuah penilaian yang lebih konstruktif, terutama difokuskan pada kerja dan inflasi, adalah apa yang investor tunggu untuk melanjutkan pembelian dolar. Namun, dan meskipun perubahan dalam kata-kata, FED akan cenderung mengulangi sikapnya bahwa kenaikan suku bunga mendatang akan tergantung data. Secara umum, data makroekonomi telah mengejutkan ke sisi atas di beberapa pekan terakhir, dengan inflasi IHK inti hingga 1,8% pada bulan Juni, Barang Pesanan Tahan Lama yang lebih baik dari perkiraan , dan Penjualan Ritel yang naik, jadi jika ada perubahan, kemungkinan akan hawkish.

Dalam kesaksian terakhirnya sebelum Kongres, Janet Yellen mengatakan bahwa "Komite akan menentukan waktu kenaikan awal pada tingkat dana federal dalam pertemuan-demi-pertemuan, tergantung pada penilaian dan kemajuan yang diharapkan menuju kerja maksimal dan inflasi 2 persen. "Juga, dia mengatakan awal tahun ini bahwa, hal itu bisa terjadi di setiap pertemuan, dan tidak hanya pertemuan dengan konferensi pers yang dijadwalkan. Namun demikian, pengertian pasar secara umum adalah bahwa pertemuan bulan ini akan memberikan kejelasan kapan tanggal untuk kenaikan suku bunga, dan sebagian besar akan menjadi non-event, yang mungkin memiliki efek negatif terbatas pada greenback, karena akan sejalan dengan ekspektasi pasar.

Pokoknya, Federal Reserve semakin dekat dengan kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, antara September dan Desember. Semakin mendekati tanggalnya, semakin kuat greenback. Bila FED mengungkapkan beberapa keprihatinan atas upah yang masih lemah, pasar akan memperkirakan kenaikan suku bunga pada bulan Desember, yang berarti Bank Sentral tidak akan mampu membuat dua kenaikan suku bunga tahun ini, banyak petugas yang telah mengantisipasi akhir-akhir ini, dan karena itu , dolar mungkin berada di bawah tekanan jual terutama terhadap Pound.

Tapi dalam jangka panjang, AS masih merupakan salah satu Bank Sentral yang menuju pengetatan kebijakan ekonomi, diikuti oleh BoE, kecuali data mulai terus mengecewakan, bear dolar jangka panjang akan tetap absen.
Read More

Rupiah diprediksi akan tembus angka Rp 17.000/USD tahun ini

05.54 | ,

Ujian Pemerintahan Jokowi sebenarnya adalah September 2015, dimana efek bola salju krisis ekonomi global akan sampai di Indonesia, bahkan para analis ekonomi Bloomberg memprediksi Kurs Rupiah akan Rp 17.000 per Dolar Amerika Serikat.

Mampukah ekonomi Indonesia bertahan di level nilai kurs Rp 17.000, ditambah saat ini fenomena turunnya daya beli masyarakat sudah terjadi dan pengurangan produksi pada perusahaan yang tergantung pada suku cadang atau barang impor sudah dilakukan

Efeknya akan makin berat, seandainya kementerian ekonomi pada kabinet kerja Jokowi hanya mampu mengandalkan aksi penyelamatan kurs Rupiah melalui aksi pasar borong dolar dengan mengorbankan nilai devisa yang dimiliki negara ini, artinya sampai berapa kuat dan sampai berapa jumlah lagi yang harus dikorbankan devisa yang dimiliki negara ini

Analisa ekonom yang sudah memprediksi Kurs Rupiah 17.000 pada september 2015, harus secepatnya diantisipasi oleh pemerintahan Jokowi, diantara desakan Reshuffle dan konstelasi politik yang semakin ‘panas’ diantara partai pendukung pemerintah

Jangan sampai karena mengikuti situasi politik terkait rencana Reshuffle, Pemerintah Jokowi lengah akan ancaman krisis global yang akan masuk ke Indonesia satu atau dua bulan kedepan.
Read More

EUR/USD Tidak Termotivasi Di Sekitar 1,1060

05.17 | ,

Mata uang tunggal tetap apatis pada hari Selasa, sekarang membawa EUR/USD ke pola konsolidatif di sekitar 1,1070/60.

EUR/USD fokus pada data AS

Spot turun dari puncak semalam di sekitar lingkungan 1,1100, mengempis dari puncak sesi sebelumnya dekat 1,1120. Euro telah menyerahkan kenaikan awal di tengah sesi perdagangan yang tipis dan volatilitas langka sementara nada hati-hati di antara pelaku pasar tumbuh lebih besar sehubungan pertemuan FOMC pada hari Rabu.

Sementara itu, dan kembali ke Yunani, negosiasi berorientasi pada paket bailout ketiga antara 'Troika' dan pemerintah ditetapkan untuk dimulai hari ini.

Dari segi data, harga perumahan yang dilacak oleh indeks S&P/Case-Shiller, IMP Jasa Markit dan Kepercayaan Konsumen CB akan dirilis.

Level EUR/USD yang diperhatikan

Saat penulisan pasangan ini di 1,1060 dan penembusan 1,0969 (terendah 27 Juli) akan membuka pintu untuk 1,0931 (terendah 24 Juli) dan kemudian 1,0892 (terendah 22 Juli). Di sisi lain, garis rintangan langsung di 1,1129 (tertinggi 27 Juli) di depan 1,1197 (tertinggi 13 Juli) dan terakhir 1,1215 (tertinggi 10 Juli).
Read More

 

Receive All Free Updates Via Facebook.